Indonesian Weblog
| Syahbandar di masa lalu |
|
|
| Ditulis oleh Administrator |
| Jumat, 29 Oktober 2010 16:08 |
|
Untuk menjamin ketertiban di pelabuhan agar perdagangan terus berjalan, hukum laut internasional menetapkan syahbandar atau harbour master sebagai kuasa hukum pelabuhan di berbagai negara. Pada masa silam, seluruh pelabuhan di kerajaan-kerajaan Nusantara juga diampu oleh syahbandar. Syahbandar adalah wakil raja di pelabuhan. Kekuasaannya sangat besar. Walaupun tidak digaji raja, syahbandar berhak memungut pajak. Laksamana Perancis de Beaulieu, dalam buku Denys Lombard bertajuk Kerajaan Aceh (hal 149), mengisahkan bahwa ia dijemput syahbandar selaku wakil raja saat kapalnya memasuki Pelabuhan Banda Aceh. Pada zaman Sultan Iskandar Muda, Pelabuhan Banda Aceh bahkan membutuhkan sedikitnya tiga syahbandar.
Para syahbandar dan sederetan karkun atau juru tulis berada di bawah wewenang balai furdah atau kantor pelabuhan. Sejarawan, Adrian B Lapian, dalam buku Pelayaran dan Perniagaan Nusantara; Abad ke-16 dan 17, menggambarkan peran dan kedudukan syahbandar lebih rinci lagi. Di Pelabuhan Martapura (Kalimantan Selatan), syahbandarnya bernama Retna dy Ratna, keturunan Gujarat. Namun, pada 1692, jabatan itu dialihkan ke seorang syahbandar Tionghoa. Pelabuhan Banten (1604) dipimpin syahbandar keturunan Keling. Namun, saudagar Perancis Jean-Baptiste de Guilhen ketika berlabuh di Banten, Juli 1671, mengisahkan diterima oleh Syahbandar Kaytsu, seorang China muslim. Adapun Syahbandar Gresik dan Jaratan (1600-an) bernama Ince Muda, keturunan Tionghoa. Sementara dalam buku Orang Cina, Bandar Tol, Candu, dan Perang Jawa (hal 23), Peter Carey menulis Raja Mataram (Islam) Amangkurat II, untuk mengendalikan orang China yang terus bertambah, mengangkat para perwira China. Perwira-perwira China itu tunduk kepada Syahbandar Jepara yang keturunan Tionghoa (1708), yang juga mengelola permukiman-permukiman China yang lebih besar di pantai utara Jawa. Dari situ tergambar betapa luas urusan yang diemban syahbandar. Pada puncak kejayaannya, Pelabuhan Malaka pun dipimpin empat syahbandar. Kedudukan terpenting diampu syahbandar yang mengurusi kepentingan orang-orang Jawa, Maluku, Banda, Palembang, Brunei, dan Filipina. Ada pula syahbandar yang secara khusus menangani orang Tionghoa dan pedagang pulau Ryu Kyu (Jepang selatan). Dari praktik di berbagai pelabuhan dapat disimpulkan, tugas utama syahbandar adalah mengurus dan mengawasi perdagangan, termasuk pengawasan di pasar dan gudang. Syahbandar juga harus mengawasi timbangan, ukuran dagangan, dan mata uang yang dipertukarkan. Dia juga menjadi hakim bila ada perselisihan antarpedagang. Umumnya, syahbandar diangkat dari kalangan saudagar asing, bukan pejabat bumiputera. Dengan demikian, saudagar merasa lebih aman dan nyaman karena kepentingannya diperhatikan pejabat pelabuhan dari kalangan sendiri. Tags: |